Minggu, 24 Juni 2018

ASPEK HUKUM DALAM EKONOMI


BIAYA EKSPOR TERPANGKAS
Jakarta- biaya ekspor Indonesia diperkirakan berangsur turun sejalan dengan pembukaan pelayanan langsung atau direct call ke negara tujuan ekspor. Efisiensi timbul karena kargo asal Indonesia tidak perlu lagi transit di pelabuhan Singapura dan Malaysia.
Sejak 2017, perusahaan pelayaran asal Prancis, CMA CGM membuka direct call ke AS (JAX Service) setiap pekan dengan armada kapal berkapasitas 8000 TEUs. Setahun berjalan, CMA CGM memboyong kapal berukuran lebih besar seiringan dengan peningkatan jumlah kargo.
Elvyn G. Masassya, Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau Indonesia Port Corporation (IPC), mengatakan biaya pengiriman lewat direct call lebih hemat US$300 perkontainer ukuran 20 kaki. IPC berupaya mendatangkan kapal yang lebih besar agar biaya angkut kian efisien.
Dijuni 2018 mendatang, Elvyn menyebut kapal berkapasitas 14.000 TEUs atau kapal container generasi ketujuh akan merapat di Tanjung Priok. Infra struktur di Priok bisa mengakomodasi kapal jumbo karena kedalaman kolam sidah menjapai -16 LWS.
Tanjung Priok kini menjelma sebagai pusat konsolidasi kargo ekspor nasional, terutama untuk rute AS dan Eropa. “ kalua ini terus berjalan, biaya logistic Indonesia bisa turun, produk ekspor meningkat, dan Tanjung Priok lebih kompetitif,” ujarnya pekan lalu.
Riset Asosiasi Logistik dan Forwander Indonesia menunjukan, rasio biaya logistic terhadap produk domestikbruto pada 2017 turun menjadi 23,5% dari posisi tersebut hampir dua kali lipat dari rasio negara-negara di Asia Tenggara.
Selama paruh kedua 2017, arus kapal rute Jax Service mencapai 38 call sedangkan rute SEANE 19 call. Total muatan Jax Service 124.302 TEUs sedangkan rute SEANE 30.672 TEUs.
Presiden direktur CMA-CGM Indonesia Farid Belboub menyatakan permintaan kargo ntuk rute AS maupun Eropa terus naik setahun terkahir, karena waktu tempuh yang lebih cepat.
Waktu tempuh direct call ke Los Angeles mencapai 23 hari. Bila transit menjadi 30 hari. Muatan yang kami bawa beragam, ada Yellow Tuna dari Bitung, furniture, plywood, tekstil.
Permintaan yang terus meningkatmembuat CMA CGM memboyong kapal yang lebih besar. Pada awal Mei 2018, APL. Salalah bersandar di Tanjung Priok. Kapal berkapasitas 10.642 TEUs itu membongkar 1666 TEUs dan memuat 2.818 TEUs.
Dua pekan berselang, CMA CGM Tage ikut merapat, membongkar 1.905 TEUs dan memuat 2.385 TEUs. Kapal bermuatan barang ekspor senilai US$11,68 juta ini bahkan dilepas Presiden Joko Widodo di terminal JICT. Farid menuturkan sejak April 2018 CMA CGM berkongsi dengan Meratus Line. CGM berkongsi dengan Meratus Line.
Dilain pihak, kementerian perhubungan optimis bisa menarik kargo ekspor sebanyak 2 juta TEUs pada 2019 lewat direct call dari Tanjung Priok. Menteri Perhubungan Budi Karya Surnadi mengatakan pemilik barang di luar Jawa lebih tertarik mengirim barangnya ke luar negeri lewat pelanuhan di Malaysia dan Singapura. “ Barang dari luar Jakarta yang lewat Singapura itu ada 3 juta TEUs, sekarang sudah bisa kita Tarik 800000” ujarnya.
INSENTIF
Budi pun menawarkan insentif agar kapal besar mau merapat di Priok. Sejumlah tarif kepelabuhan dipatok dengan skema progesif. Makin besar ukuran pasar, tarif pun kian murah.
Data dari statistic Perhubungan menunjukkan, arus kunjungan kapal 2016-2017 naik 3,5% menjadi 188.928 unit. Berdasarkan bobot kapal, arus kapal tumbuh 11,09 % menjad 957 juta GT. Artinya, Indonesia lebih sering disinggahi kapal besar.
Disisi lain untuk menekan biaya logistic, termasuk pengiriman barang ekspor, modal angkutan darat juga perlu dibenahi. Laporan The Impact of Mega-Ships: The Case of Jakarta yang diterbitkan The Organitation for Economic Comperation and Development (OECD) mengungkapkan biaya angkut container ke pelabuhan terbilang mahal. Solusinya, perlu diperbanyak pelabuhan kering atau dry port.
Kalangan dunia usaha menyambut kehadiran kapal raksasa yang berlayar langsung dari Tanjung Priok ke AS.
“sementara dalam sisi logistiknya (pengguna kapal sangat besar) terdapat dalam kecepatan bongkar muatan.” Ujar Adhi S. Lukman, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan minuman seluruh Indonesia.
Wakil Ketua Umum Asosisi Persepatuan Indonesia Budiarto Tjandra memperkirakan kenaikan ekspor hingga 10% ke AS dan Eropa karena terjadi efisiensi bisnis.
Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia Warih Andang Tjahyono berpendapat direct call sangat tergantung dengan kapasitasmuatan ekspor yang disiapkan.
Direktur Eksekutif Arisindo Firman Bakri mengatakan industry membutuhkan insentif fiscal tambahan agar semakin berkembang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar