BIAYA EKSPOR TERPANGKAS
Jakarta-
biaya ekspor Indonesia diperkirakan berangsur turun sejalan dengan pembukaan
pelayanan langsung atau direct call ke negara tujuan ekspor. Efisiensi timbul
karena kargo asal Indonesia tidak perlu lagi transit di pelabuhan Singapura dan
Malaysia.
Sejak
2017, perusahaan pelayaran asal Prancis, CMA CGM membuka direct call ke AS (JAX
Service) setiap pekan dengan armada kapal berkapasitas 8000 TEUs. Setahun
berjalan, CMA CGM memboyong kapal berukuran lebih besar seiringan dengan
peningkatan jumlah kargo.
Elvyn
G. Masassya, Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau Indonesia
Port Corporation (IPC), mengatakan biaya pengiriman lewat direct call lebih
hemat US$300 perkontainer ukuran 20 kaki. IPC berupaya mendatangkan kapal yang
lebih besar agar biaya angkut kian efisien.
Dijuni
2018 mendatang, Elvyn menyebut kapal berkapasitas 14.000 TEUs atau kapal
container generasi ketujuh akan merapat di Tanjung Priok. Infra struktur di
Priok bisa mengakomodasi kapal jumbo karena kedalaman kolam sidah menjapai -16
LWS.
Tanjung
Priok kini menjelma sebagai pusat konsolidasi kargo ekspor nasional, terutama
untuk rute AS dan Eropa. “ kalua ini terus berjalan, biaya logistic Indonesia
bisa turun, produk ekspor meningkat, dan Tanjung Priok lebih kompetitif,”
ujarnya pekan lalu.
Riset
Asosiasi Logistik dan Forwander Indonesia menunjukan, rasio biaya logistic
terhadap produk domestikbruto pada 2017 turun menjadi 23,5% dari posisi
tersebut hampir dua kali lipat dari rasio negara-negara di Asia Tenggara.
Selama
paruh kedua 2017, arus kapal rute Jax Service mencapai 38 call sedangkan rute
SEANE 19 call. Total muatan Jax Service 124.302 TEUs sedangkan rute SEANE
30.672 TEUs.
Presiden
direktur CMA-CGM Indonesia Farid Belboub menyatakan permintaan kargo ntuk rute
AS maupun Eropa terus naik setahun terkahir, karena waktu tempuh yang lebih
cepat.
Waktu
tempuh direct call ke Los Angeles mencapai 23 hari. Bila transit menjadi 30
hari. Muatan yang kami bawa beragam, ada Yellow Tuna dari Bitung, furniture,
plywood, tekstil.
Permintaan
yang terus meningkatmembuat CMA CGM memboyong kapal yang lebih besar. Pada awal
Mei 2018, APL. Salalah bersandar di Tanjung Priok. Kapal berkapasitas 10.642
TEUs itu membongkar 1666 TEUs dan memuat 2.818 TEUs.
Dua
pekan berselang, CMA CGM Tage ikut merapat, membongkar 1.905 TEUs dan memuat
2.385 TEUs. Kapal bermuatan barang ekspor senilai US$11,68 juta ini bahkan
dilepas Presiden Joko Widodo di terminal JICT. Farid menuturkan sejak April
2018 CMA CGM berkongsi dengan Meratus Line. CGM berkongsi dengan Meratus Line.
Dilain
pihak, kementerian perhubungan optimis bisa menarik kargo ekspor sebanyak 2
juta TEUs pada 2019 lewat direct call dari Tanjung Priok. Menteri Perhubungan
Budi Karya Surnadi mengatakan pemilik barang di luar Jawa lebih tertarik
mengirim barangnya ke luar negeri lewat pelanuhan di Malaysia dan Singapura. “
Barang dari luar Jakarta yang lewat Singapura itu ada 3 juta TEUs, sekarang
sudah bisa kita Tarik 800000” ujarnya.
INSENTIF
Budi
pun menawarkan insentif agar kapal besar mau merapat di Priok. Sejumlah tarif
kepelabuhan dipatok dengan skema progesif. Makin besar ukuran pasar, tarif pun
kian murah.
Data
dari statistic Perhubungan menunjukkan, arus kunjungan kapal 2016-2017 naik
3,5% menjadi 188.928 unit. Berdasarkan bobot kapal, arus kapal tumbuh 11,09 %
menjad 957 juta GT. Artinya, Indonesia lebih sering disinggahi kapal besar.
Disisi
lain untuk menekan biaya logistic, termasuk pengiriman barang ekspor, modal
angkutan darat juga perlu dibenahi. Laporan The Impact of Mega-Ships: The Case
of Jakarta yang diterbitkan The Organitation for Economic Comperation and
Development (OECD) mengungkapkan biaya angkut container ke pelabuhan terbilang
mahal. Solusinya, perlu diperbanyak pelabuhan kering atau
dry port.
Kalangan
dunia usaha menyambut kehadiran kapal raksasa yang berlayar langsung dari
Tanjung Priok ke AS.
“sementara
dalam sisi logistiknya (pengguna kapal sangat besar) terdapat dalam kecepatan
bongkar muatan.” Ujar Adhi S. Lukman, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan
minuman seluruh Indonesia.
Wakil
Ketua Umum Asosisi Persepatuan Indonesia Budiarto Tjandra memperkirakan
kenaikan ekspor hingga 10% ke AS dan Eropa karena terjadi efisiensi bisnis.
Presiden
Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia Warih Andang Tjahyono
berpendapat direct call sangat tergantung dengan kapasitasmuatan ekspor yang
disiapkan.
Direktur
Eksekutif Arisindo Firman Bakri mengatakan industry membutuhkan insentif fiscal
tambahan agar semakin berkembang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar